Kami masih rancang program itu hingga detail. Namun begitu, pekan depan pada HUT Kota Balikpapan Ke-116, sudah akan diluncurkan
Berita Terkait
Balikpapan (ANTARA Kaltim) - Pemerintah Kota Balikpapan akan meluncurkan Program Rumah Pangan Lestari pada HUT Balikpapan ke-116 pekan depan, untuk mengontrol laju inflasi di salah satu kota utama Kalimantan Timur tersebut.

"Dengan program itu, masyarakat Balikpapan didorong untuk mandiri dalam penyediaan pangannya atau setidaknya bisa mengurangi ketergantungan pada bahan pangan yang harus didatangkan dari daerah lain," kata Asisten II Bidang Perekonomian, Pembangunan, dan Kesejahteraan Rakyat Sekretaris Kota Balikpapan, Sri Soetantinah, Jumat (1/2).

Penyebab inflasi utama di Balikpapan adalah menipisnya pasokan pangan, terutama sembako dan sayur mayur, termasuk sayuran bumbu seperti cabai karena distribusinya terhambat.

Pada Januari lalu angkanya mencapai 1,9 persen, atau bila dihitung tahunan adalah 5,52 persen.

Hambatan distribusi utama adalah cuaca buruk dan gelombang besar di Laut Jawa dan Selat Makassar sehingga kapal-kapal pengangkut sembako ke Balikpapan terlambat datang.

Tantin, panggilan akrab Sri Soetantinah, yang juga anggota Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID), menyebutkan bahwa Ruman Pangan Lestari adalah pengembangan dari program produktif yang sudah dilakukan TPID.

"TPID punya program menanam cabai sebanyak 10.000 pohon yang sukses mengendalikan laju inflasi karena harga cabai yang melangit. Jadi program Rumah Pangan Lestari ini diharapkan juga bisa menekan laju inflasi," jelas Tantin.

TPID menggerakkan masyarakat untuk menanam cabai sendiri di rumah dengan berbagai cara.

"Kan menanam cabai itu mudah. Tidak punya tanah atau pekarangan, di dalam pot bisa. Bahkan pakai pot dari bekas botol air mineral juga bisa. Hasilnya, kita tidak lagi harus beli kalau hanya cabai, tinggal petik dari pohon yang ada," kata Tutuk SH Cahyono, Kepala Bank Indonesia (BI) Perwakilan Balikpapan yang jadi salah satu penggagas ide menanam cabai itu.

BI sendiri sangat prihatin pada harga-harga mahal di Balikpapan, yang menurut Tutuk Cahyono di atas normal.

"Tidak selamanya karena distribusi, tapi juga karena struktur pasar yang oligopoli. Pasokan barang hanya dikuasai beberapa orang saja," sebutnya dalam beberapa kesempatan.

Di sisi lain, Tantin mengatakan Pemkot Balikpapan belum memutuskan langkah-langkah apa saja yang ada dalam program Rumah Pangan Lestari tersebut.

Seperti apakah program ini merupakan perberdayaan petani, atau komoditas apa saja yang dijadikan percontohan untuk dijadikan lestari, belum bisa dipaparkan oleh Tantin.

"Kami masih rancang program itu hingga detail. Namun begitu, pekan depan pada HUT Kota Balikpapan Ke-116, sudah akan diluncurkan," ujarnya. (*)

Editor: Arief Mujayatno
COPYRIGHT © 2014

Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antarakaltim.com

Komentar Pembaca
Kirim Komentar