282 DAS di Indonesia kritis

Foto udara kondisi daerah aliran sungai (DAS) Citarum di daerah Ketapang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. DAS Citarum saat ini mendapat ancaman berupa degradasi tanah, erosi, sedimentasi, banjir, serta polusi industri. (ANTARA)

Selain erosi dan longsor, Indonesia juga merugi besar karena banjir tiap tahun, padahal hanya dua kunci untuk mengatasi banjir, yakni memperbesar penyerapan air hujan ke dalam tanah dan mengendalikan run off (air melimpas)
Berita Terkait
Bogor (ANTARA News) - Dari 458 Daerah Aliran Sungai (DAS) di Indonesia, 60 di antaranya dalam kondisi kritis berat, 222 kritis, dan 176 lainnya berpotensi krisis akibat alih fungsi lahan yang membuat penyangga lingkungan itu tidak berfungsi optimal.

"Ratusan DAS kini telah rusak akibat pertanian, pemukiman, dan industri," kata Sekretaris Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pertanian Dr Hasil Sembiring pada press and student gathering tentang konservasi Sumberdaya Air Atasi Bencana DAS di Bogor, Sabtu.

Akibat makin hilangnya vegetasi di bagian hulu DAS di pegunungan, lanjut dia, ratusan DAS kini tak lagi mampu berfungsi menyerap air hujan di bagian hulu, bahkan mengalami erosi dan menyebabkan aliran air DAS makin banyak membawa sedimentasi dari hulu ke hilir.

"Pola pertanian tidak bijak harus dihindari, yakni budidaya pertanian di lereng lebih dari 15 persen, karena erosi pada lahan pertanian berlereng 3-15 persen akan menghilangkan tanah mencapai 97,5-423,6 ton per ha, padahal proses terbentuknya tanah hanya 10 ton per ha," katanya sambil menambahkan bahwa untuk lahan berlereng paling baik adalah ditumbuhi hutan.

Bahkan fungsi DAS mengalirkan air dari daratan ke laut kini juga sudah banyak yang terganggu karena badan sungai sepanjang hilir sampai ke hulunya makin menyempit dan rusak akibat pemukiman dan industri yang mengambil bantaran sungai, ujarnya.

Kerugian akibat erosi lahan DAS di Jawa, menurut dia, mencapai 341 sampai 406 juta dolar AS per tahun dan kerugian akibat longsor di Indonesia mencapai Rp668 miliar per tahun.

Sebanyak 77 persen lahan di Indonesia, memang berlereng, dengan tiga persen tanah yang peka erosi, apalagi curah hujannya tinggi yakni 59,7 persen daratan memiliki tingkat curah hujan sampai 2.000-3.500 mm per tahun, bahkan 23,1 persen bercurah hujan di atas 3.500 mm dan hanya 17,2 persen dengan curah hujan di bawah 2.000 mm per tahun.

Menurut dia, sudah banyak teknologi untuk mengendalikan erosi dan longsor dengan cara vegetatif misalnya menanam pepohonan, semak dan rumput, juga secara mekanik, dengan saluran drainase, bangunan penahan material longsor, bangunan penguat tebing, atau trap-trap terasering.

"Selain erosi dan longsor, Indonesia juga merugi besar karena banjir tiap tahun, padahal hanya dua kunci untuk mengatasi banjir, yakni memperbesar penyerapan air hujan ke dalam tanah dan mengendalikan run off (air melimpas)," ujarnya. (*)

Editor: Arief Mujayatno
COPYRIGHT © 2014

Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antarakaltim.com

Komentar Pembaca
Kirim Komentar