Balikpapan (ANTARA News) - Perdagangan bebas kawasan ASEAN dan Cina-ASEAN Free Trade Area (AFTA) pada 2010 mulai terasa dampaknya di Kota Balikpapan, terlihat dari dominasi buah-buahan import asal Cina yang kini menguasai pasar di kota berpenduduk sekitar 600.00 jiwa itu.
  
"Yang paling terlihat adalah jenis buah-buahan. Misalnya, jeruk asal Cina jenis Shan Tang, Ponkan dengan mudah kita dapatkan. Begitu juga pir semuanya asal China, pir Shandong, Shangli, Ya Lie dan Shang Lie," kata Yunus, salah seorang pedagang buah di Pasar Klandasan Balikpapan, Sabtu.
  
Bergulirnya AFTA pada 2010 ini, maka semua produsen dari luar negeri diperkirakan membanjiri pasar nasional karena harga dan kualitas sangat bersaing.
   
Buah-buahan asal Negeri Tirai Bambu itu tidak saja menguasai pasar modern seperti mal dan mini market namun juga pasar tradisional di Balikpapan.
   
"Para pedagang bukan hanya di pasar modern namun di pasar tradisional juga hampir semuanya menjual buah-buahan hasil pertanian Hasil," katanya.
   
Sejumlah warga mengaku menggemari buah-buahan asal negeri Cina karena baik kuantitas maupun kualitasnya lebih baik.
   
"Penampilan dan rasa buah-buahan impor dari Cina ini disukai konsumen. Jadi, meskipun harga lebih mahal ketimbang jeruk lokal seperti dari Banjarmasin namun minat masyarakat yang membeli jeruk dari China tetap banyak," jelas Yunus.
     
Yunus menjual jeruk asal China untuk jenis Shantang seharga Rp15 ribu per kilogram, Ponkan Rp20 ribu per kg, sementara untuk harga jeruk asal Banjarmasin Rp5.000 per kg.
     
"Saya memperoleh pasokan buah-buahan import asal Cina dari distributor di Surabaya sangat mudah mendapatkannya hanya menyetor uang pembayaran terlebih dahulu sesuai jumlah permintaan buahnya," katanya.
     
Meskipun harga buah jeruk dari Banjarmasin murah namun Yunus tidak menjual buah dari lokal tersebut dengan alasan kurang banyak peminatnya.
     
"Menjual buah-buahan import ini baik yang dari Cina, Amerika maupun Selandia Baru, setiap hari omzet penjualan saya mencapai Rp5 juta,"tambahnya.
     
Meili, salah satu pembeli mengakui bahwa ia lebih menyukai buah asal China seperti jeruk Shantang ketimbang produk lokal dari Banjarmasin.
    
"Rasa jeruk dari China lebih manis, sedangkan lokal terkadang sepat rasanya. Jadi biarpun harga jeruk import lebih tinggi tapi kita puas makannya," imbuh Meili.
     
Ia menilai bahwa seharusnya pemerintah memperhatikan sistem pertanian lokal, yakni bertujuan agar kualitas pertanian terutama buah-buahan bisa bersaing dengan produk impor.
      
Hal senada dikatakan Kadir, salah seorang pedagang buah di Pasar Kebun Sayur yang menyatakan bahwa konsumen lebih banyak membeli buah-buahan asal China seperti jeruk Shantang.
      
"Menurut para langganan saya yang membeli, jeruk asal China rasanya lebih manis dibanding yang punya lokal," ujarnya.
      
Kurangnya minat masyarakat untuk membeli buah-buahan lokal, sehingga Kadir tidak menjualnya karena rugi dan lama lakunya

Editor: iskandar zulkarnaen
COPYRIGHT © 2014

Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antarakaltim.com

Komentar Pembaca
Kirim Komentar