Kamis, 29 Juni 2017

Mungkinkah Di Kalimantan Timur ada "Segitiga Setan" ?

id ,
Mungkinkah Di Kalimantan Timur ada
"Segitiga Setan" di Kaltim itu diduga meliputi kawasan yang dikelilingi tiga gunung tertinggi di Kalimantan Timur, salah satunya adalah Gunung Helau (1.892 m) yang masuk dalam kawasan "heart of Borneo".

Samarinda (ANTARA News-Kaltim) - Di luar nalar manusia ada hal-hal penuh misteri yang hanya Allah mengetahuinya. Salah satunya adalah misteri Segitiga Bermuda (Bermuda Triangle) atau sering disebut juga "Segitiga Setan".

Berbagai pendapat bahkan para ahli dengan bantuan kemajuan teknologi luar biasa pada abad ke-21 ini belum mampu memecahkan misteri Segitiga Setan.

Segitiga Setan itu adalah sebuah garis segitiga imajiner pada sebuah wilayah lautan di Samudra Atlantik seluas 1,5 juta mil2 atau 4 juta km2.

Segitiga imajiner yang lebih luas dari yang membentuk garis segitiga  antara Bermuda, yakni wilayah teritorial Britania Raya sebagai titik di sebelah utara, Puerto Riko, teritorial Amerika Serikat sebagai titik di sebelah selatan dan Miami, negara bagian Florida, Amerika Serikat sebagai titik di sebelah barat.

Berbagai berdapat mengatakan bahwa hilangnya puluhan pesawat terbang dan kapal tanpa bekas di kawasan misterius itu karena ada gejala alam luar biasa, ada yang mengatakan terdapat medan magnit sangat kuat, pendapat tentang  lubang hitam (black hole) yang menyedot apa saja yang melintasi, pendapat tentang pangkalan UFO serta Muhammad Isa Dawud (MID) dalam bukunya  ‘Al-Khuyut al-Khafiyyah baina al-Masikh ad-Dajjal wa Asrar Muthallath Bermuda wa al-Atbaq at-Ta’irah, Terbitan, Darul al-Basyir, Kaherah, Mesir mengatakan bahwa Dajjal akan menggempur dunia dari Segitiga Bermuda.

Misalnya, tentang teori lorong waktu yang dilontarkan seorang ilmuwan Amerika yang bernama Ado Snandick ternyata mendapat sanggahan dari berbagai kalangan ilmuwan.

Termasuk anggapan bahwa kawasan itu tempat tenggelamnya negeri atlantis karena konon di dasar laut ditemukan sebuah piramida yang lebih besar dari yang ada di Mesir.

Ada beberapa ilmuwan Barat yang berpendapat bahwa Piramida di dasar laut ini mungkin awalnya dibuat di atas daratan, lalu terjadi gempa bumi yang dahsyat, dan menggelamkan daratan ke dasar laut seiring dengan perubahan penurunan permukaan tanah.

Ilmuwan lainnya berpendapat bahwa beberapa ratus tahun yang silam perairan di area Segitiga Bermuda dianggap pernah menjadi sebagai salah satu landasan aktivitas bangsa Atlantis, dan Piramida di dasar laut tersebut mungkin sebuah gudang pemasokan mereka.

Ada juga yang curiga bahwa Piramida kemungkinan adalah sebuah tanah suci yang khusus dilindungi oleh bangsa Atlantis pada tempat yang mempunyai sejenis kekuatan dan sifat khas energi kosmosnya, Piramida itu bisa menarik dan mengumpulkan sinar kosmos, medan energi atau energi gelombang lain yang belum diketahui dan struktur pada bagian dalamnya mungkin adalah resonansi gelombang mikro, yang memiliki efek terhadap suatu benda dan menghimpun sumber energi lainnya.

Li Hongzhi menulisa dalam "Zhuan Falun" mempunyai penjelasan tentang penemuan peradaban prasejarah sebagai berikut bahwa di atas bumi ada benua Asia, Eropa, Amerika Selatan, Amerika Utara, Oceania, Afrika dan benua Antartika, yang oleh ilmuwan geologi secara umum disebut ‘lempeng kontinental’. Sejak terbentuknya lempeng kontinental sampai sekarang, sudah ada sejarah puluhan juta tahun.

Ia menambahkan bahwa banyak daratan berasal dari dasar laut yang naik ke atas, ada juga banyak daratan yang tenggelam ke dasar laut, sejak kondisi ini stabil sampai keadaan sekarang, sudah bersejarah puluhan juta tahun. Jadi jika di dasar laut ditemukan sejumlah bangunan yang tinggi besar dengan pahatan yang sangat indah, dan bukan berasal dari warisan budaya umat manusia modern, jadi pasti bangunan yang telah dibuat sebelum ia tenggelam ke dasar laut.” Dipandang dari sudut ini, misteri asal mula Piramida dasar laut ini sudah dapat dipecahkan.

Berbagai teori yang muncul tentang Segitiga Bermuda itu pada awalnya seperti "masuk akal" dan akan bisa menjawab misteri tersebut namun satu demi satu dimentahkan oleh ahli yang lain dengan mengungkapkan berbagai alasan yang juga sangat logis dan ilmiah.

Selain, Segitiga Bermuda, sebenarnya di dunia ini ada beberapa kawasan yang tidak kalah menyeramkan salah satunya di perairan di Jepang Devi'l Sea (Laut Setan).

Perairan sebenarnya perairan tenang di Laut Pasifik, 100 KM sebelah selatan Tokyo yang terletak diantara pulau Ivojima dan Pulau Miyake tetapi kurang begitu terkenal ketimbang Segitiga Bermuda. Mungkin karena letaknya sangat jauh dari daratan Jepang ketimbang Segitiga Bermuda yang sering dilintasi kapal dan pesawat terbang.

Meski tenang, Laut Setan telah "menelan" beberapa kapal dan pesawat antara 1950 dan 1954. Bahkan, didaerah ini telah hilang tidak kurang dari sembilan kapal besar tanpa meninggalkan bekas.

Sama seperti Segitiga Setan berbagai penelitian dilakukan namun sampai kini tidak ada penjelasan yang memuaskan para ilmuwan sehingga misteri tetap menjadi misteri.


Di Kalimantan Timur

Selain Segitiga Bermuda dan Laut Setan, beberapa belahan dunia sudah tentu ada kawasan, daerah atau lokasi yang dipercaya memiliki misteri, termasuk di Kalimantan Timur, yakni pada salah satu kawasan itu adalah yang meliputi daerah di Kabupaten Bulungan, Kabupaten Nunukan dan Kabupaten Malinau, Kabupaten Kutai Barat dan Kabupen Kutai Kartanegara..

"Segitiga Kaltim" atau katakan saja sebagai "kawasan angker di kaltim", diduga terletak di sekitar kawasan yang menjadi bagian dari "heart of Borneo" meliputi kawasan pedalaman Provinsi Kalimantan Timur.

Pada kawasan itu, umumnya memiliki hutan yang masih lebat serta terdapat lembah-lembah serta gunung-gunung cukup tinggi karena sekitar 1.000-1.800 meter.

Jangan berharap menemukan kata-kata "Segitiga Kaltim" itu dikamus elektronik atau mesin pencari google, bahkan bisa fenomena itu hanya diketahui beberapa pilot pesawat perintis yang pernah melintasi kawasan itu.

"Kemungkinan" adanya "Segitiga Setan" atau katakan saja kawasan rawan bagi penerbangan di Kalimantan Timur itu terungkap cukup lama, yakni ketika pada 26 Juli 1994 sebuah pesawat 
heli jenis S-58T yang membawa 18 orang terdiri dari penumpang dan kru serta pilot hilang di rimba Kalimantan Timur.

Tim SAR telah hari-hari dengan berulang-ulang melintasi kawasan yang diduga dilalui pesawat heli milik penerbangan Air Fast  yang disewa sebuah perusahaan pengumpul sarang burung dan kayu gaharu itu namun belum membuahkan hasil.

Bahkan,  beberapa anggota tim SAR yang menggunakan Helikopter Bell 206 PK-UHM dengan  pilot Kapt. Tobing, Marvin dan Andriana memasuki hari kelima pencarian pesawat yang seperti hilang ditelan bumi itu seperti frustasi.

Pencarian sudah memasuki hari ke lima dan memfokuskan pencarian di seputar sungai Kayan, hutan Long Laham dan terus menuju ke  Kelawit pedalaman Kabupaten Bulungan, belum ada perkembangan yang pasti.
   
Beberapa hari kemudian pencarian diperluas pada kawasan pedalaman Tabang Kutai. Saat itu, kata Ketua Tim SAR Bandara Sepinggan adalah Heru Legowo. Sebagian tim SAR melakukan pencarian di seputar Base Camp Kilo-5 di pedalaman Bulungan.

Ketua Basarnas kala itu, Laksamana Pertama Herinto yang didampingi Kepala Pengendalian Basarnas, Kolonel.Pnb, Iut Wiandra ikut terjun dalam upaya melakukan pencarian pesawat dan korbannya dengan menggunakan pesawat Cassa PK-OCC dengan pilot Kapt. Bambang Sutrisno dan Robby.

Menjelang dua pekan, agaknya tim SAR sudah tidak punya pilihan lain, kecuali untuk segera menghentikan operasi itu, alasan yang masuk akal namun kurang etis disampaikan ke media massa adalah besarnya biaya operasi pencarian menggunakan beberapa pesawat heli tersebut.

Ketika Tim SAR seperti kehabisan akal, ternyata ada yang berinisiatif untuk melibatkan paranormal dalam pencarian.

Beberapa saksi mata menyebutkan bahwa ketika paranormal itu dibawa ke sejumlah lokasi yang diperkirakan tempat hilangnya pesawat naas itu, ia mengalami "trance" (kesurupan) dan berkata-kata dengan bahasa yang tidak dimengerti, sebagian anggota Tim SAR menduga-duga mirip Bahasa Dayak atau "Bahasa Dayak Kuno" (meskipun paranormal bukan orang Dayak).

Dalam keadaan trance itu, paranormal mengambil peta dan menunjuk sebuah titik yang berdasarkan penglihatannya saat trance adalah lokasi jatuhnya pesawat.

Antara yakin dan tidak, Tim SAR kemudian menuju lokasi sesuai titik yang ditunjuk paranormal di peta penerbangan itu. Dan akhirnya bangkai pesawat heli serta kerangka para korban yang semuanya meninggal ditemukan.

Berdasarkan penutusan paranormal itu, ia seperti melihat potongan batu seperti altar di kawasan jatung rimba Borneo itu serta terdapat berbagai jenis perlengkapan warga pedalaman, antara lain gong dan mandau.

Tim SAR mengharapkan agar keterlibatan paranormal dalam keberhasilan menemukan korban itu jangan terlalu dibesar-besarkan, alasannya sangat logis, yakni agar peran anggota Tim SAR yang bersusah payah tidak diabaikan apalagi menggunakan dana tidak sedikit.

Bermula dari keterlibatan paranormal itu, kemudian sejumlah pilot pesawat perintis yang meminta identitasnya tidak disebutkan mengakui ada beberapa titik di jantung rimba Borneo yang sebenarnya cukup rawan bagi keselamatan penerbangan, yakni sering terganggunya alat-alat navigasi pesawat sepertinya di kawasan itu ada medan magnit yang kuat.

Beberapa pilot perintis mengungkapkan bahwa jika ditarik garis imajiner maka kawasan yang dianggap angker itu (navigasi penerbangan sering terganggu saat melintasi kawasan tersebut) meliputi garis segitiga di antara tiga gunung di jatung rimba pedalaman Kaltim itu, salah satunya adalah Gunung Halau (1.892 m).

Mungkin kerawanan di kawasan itu sangat berbeda dengan kawasan Segitiga Bermuda yang sudah menelan puluhan kapal dan pesawat terbang namun setidaknya kawasan yang dikenal sebagai bagian dari "heart of Borneo" itu menyimpan sekelumit cerita misteri.

Sama dengan misteri Segitiga Bermuda serta kawasan-kawasan angker di berbagai belahan dunia, mungkin ini menjadi peringatan bagi umat manusia, seperti diriwayatkan Abu Hurayrah yang mengatakan bahwa Rasulullah SAW telah bersabda “Apabila salah seorang berada ditempat yg terbuka atau di tengah matahari sedang bersinar, lalu bayangan yg meneduhinya bergerau sehingga sebagian dari dirinya terletak ditempat panas dan sebagian lagi di tempat sejuk, maka hendaklah dia berdiri atau meninggalkan tempat itu.”

Editor: iskandar zulkarnaen

COPYRIGHT © ANTARA 2010

Generated in 0.0173 seconds memory usage: 0.42 MB