Selasa, 22 Agustus 2017

Cak Budi dan Fenomena Penggalangan Donasi Online

id donasi, donasi online, Cak Budi, penggalangan donasi
Cak Budi dan Fenomena Penggalangan Donasi Online
Akun Instagram @cakbudi_ klarifikasi soal penggalangan dana. (Instagram @cakbudi_)
Jakarta (ANTARA News) - Baru-baru ini aktivis sosial Cak Budi menjadi perbincangan di media sosial, karena dikabarkan membeli iPhone 7 dan mobil Toyota Fortuner dari uang donasi yang ia kumpulkan.

Akun Instagram @cakbudi_ dikenal sebagai akun yang kerap menggalang dana bantuan sosial. Berdasarkan pengakuannya, terdapat donasi yang terkumpulkan senilai Rp1,2 miliar (560 juta donasi ke rekening pribadi, terlampir + 700 juta donasi ke halaman Kitabisa) yang belum disalurkan.

Ia pun mengakui telah menggunakan uang donasi untuk pembelian iPhone 7, yang menurutnya digunakan untuk mengambil foto dan video dari para penerima hak dan lokasi yang dikunjungi. Begitu pun terkait mobil, ia membenarkan membeli mobil jenis Fortuner untuk menempuh jarak jauh dan menjangkau area-area pedalaman.

Apapun alasan Cak Budi, pria yang dulunya dipuja masyarakat karena aktivitas sosialnya itu kini berbalik dicerca. Meskipun, ia mengaku sudah menjual mobil Fortuner tersebut dan menyerahkan hasil penjualannya kepada lembaga ACT atau Aksi Cepat Tanggap.

Cak Budi juga membuka halaman donasi di Kitabisa.com. Namun, tidak lama setelah kasus tersebut, Kitabisa.com sudah menutup alaman penggalangan dana dengan Cak Budi dan mengalihkan dana tersebut pada lembaga Aksi Cepat Tanggap.

CMO Kitabisa, Vikra Ijas, menegaskan uang yang dipakai Cak Budi untuk membeli barang itu bukan dari donasi yang digalang lewat Kitabisa, tapi dari donasi yang masuk ke rekening pribadi Cak Budi serta istrinya.

"Berkat laporan masyarakat, kitabisa telah menutup halaman ini dan mengalihkan dana kepada lembaga sosial resmi," demikian tertulis di halaman penggalangan dana Cak Budi di Kitabisa.


Fenomena situs urun dana


Gotong royong adalah hal yang lazim di Indonesia, termasuk di antaranya urun dana untuk membantu sesama. Belakangan, urun dana juga bisa dilakukan secara praktis berkat adanya platform crowdfunding.

Kitabisa.com pertama kali diluncurkan pada 2013 di bawah Yayasan Rumah Perubahan milik Profesor Rhenald Kasali. Sejak itu, situs urun dana ini telah berhasil mendanai berbagai proyek, mulai dari patungan bus donor darah untuk Palang Merah Indonesia hingga mendukung Rio Haryanto menuju Formula 1.

Salah satu kampanye yang sedang berlangsung adalah penggalangan dana Peduli Sahabat Jupe yang diinisiasi Eko Patrio, Ruben Onsu, Ayu Tingting dan Vega untuk Julie Perez yang sedang berjuang melawan kanker serviks. Hingga berita ini ditulis, kampanye Peduli Sahabat Jupe telah mengumpulkan Rp449.485.437.

Kitabisa tidak membatasi penggalangan dana pada fokus tertentu, donatur bisa menyumbangkan uang untuk lingkungan, pendidikan, bencana alam hingga zakat.

"Beberapa yang paling banyak adalah yang berkaitan dengan agama, seperti pembangunan masjid dan gereja. Kemudian bantuan untuk orang sakit, juga pembangunan infrastruktur pendidikan," jelas Iqbal Hariadi, Marketing Manager Kitabisa, saat dihubungi ANTARA News.

Demi mencegah adanya oknum nakal, Iqbal menjelaskan ada proses verifikasi yang diterapkan pada para penggalang dana baik itu individu, komunitas atau organisasi.

Tim Kitabisa akan melakukan verifikasi identitas penggalang dana, bila diperlukan mereka akan diwawancarai via telepon untuk lolos proses tersebut.

Selain itu, Iqbal menjelaskan setiap kampanye hanya bisa dilihat publik dan muncul di bagian "explore" bila sudah mendapat minimal lima donasi. Bila belum mendapat lima donasi, sebuah kampanye urun dana hanya bisa dilihat oleh orang yang mengetahui tautannya.

"Dengan sistem ini kita 'memaksa' orang untuk setidaknya menyebarkan (tautan urun dana) ke lingkaran terdekat dia."

Selain itu, donasi baru bisa dicairkan bila penggalang dana sudah melaporkan kabar terbaru dari kampanye tersebut.

Kitabisa juga menyediakan fitur "report" yang membuat siapa pun bisa melaporkan kampanye yang mencurigakan.

"Kami beberapa kali terima report, setelah itu langsung kami follow up," imbuh dia.

Platform crowdfunding di Indonesia punya fokus yang bervariasi, mulai dari masalah kesehatan hingga membantu wirausaha.

Ada wadah penggalangan dana Wecare.id yang fokus pada masalah kesehatan. Wecare.id yang diluncurkan pada 2015 silam mengumpulkan dana untuk membantu masyarakat Indonesia di daerah terpencil yang sakit namun tidak mampu mendapatkan pelayanan kesehatan.

Para dokter dari Wecare.id menyeleksi pasien berpeluang besar untuk sembuh sehingga dapat menjalani hidup produktif setiap hari. Saat ini, program difokuskan untuk pasien yang butuh penanganan segera serta kebutuhan medis di bawah Rp20 juta.

Situs urun dana ini tidak memotong donasi dengan biaya operasional. Seratus persen donasi akan diserahkan pada pasien, sementara biaya operasional didapat dari sponsor serta partner lain.

Lain lagi dengan GandengTangan.org, platform yang menyasar bantuan untuk wirausaha mikro dan kecil. Penggalangan dana di Gandengtangan bukan berupa donasi, tapi pinjaman yang besarnya dimulai dari Rp50.000.

Dalam laman resmi, Gandengtangan mengemukakan beberapa alasan mengapa uang yang diberikan berupa pinjaman, bukan santunan. Pinjaman diharap bisa membuat masyarakat miskin mandiri secara finansial dan tidak tergantung pada donasi.

"Pinjaman yang diberikan akan memberikan manfaat sosial yang lebih besar berkali lipat, apabila imbal hasilnya diputar kembali untuk mengembangkan usaha mikro & kecil yang sedang tumbuh."

Di luar negeri, situs urun dana seperti Indiegogo telah hadir sejak tahun 2008. Indiegogo yang bermarkas di San Francisco, California, AS membuat orang bisa menggalang dana untuk banyak hal, mulai dari untuk amal hingga bisnis start-up.

Pada 2011, Jessica Haley meminta bantuan urun dana lewat situs ini untuk membiayai program bayi tabung karena ia hanya punya peluang 1 persen untuk hamil secara alami. Dari target 5000 dolar AS yang ia patok, Haley berhasil mendapat 8050 dolar AS dari 132 penyumbang. Impiannya jadi ibu pun terkabul setelah melahirkan putra bernama Landon.

Dalam laman resmi, Indiegogo menyebutnya sebagai “bayi urun dana” pertama di dunia.

Ada pula Kickstarter yang berdiri sejak 2009. Platform pendanaan ini ditujukan untuk membiayai proyek kreatif, mulai dari film, game, musik, seni, desain dan teknologi.

Platform yang bermarkas di AS ini dibangun atas dasar rasa saling percaya sehingga setiap proyek harus transparan. Misalnya, proyek pembuatan produk harus menyertakan prototipe.

Mereka juga harus menyertakan informasi lengkap mengenai perkembangan proyek, apa yang sudah selesai dan belum dirampungkan.

Kickstarter dalam laman resmi menuliskan mereka telah menerima bantuan dari 13 juta orang, mengumpulkan 3 miliar dolar AS dan membiayai 124.072 proyek sejak platform ini dirilis delapan tahun silam.

Bila sebuah proyek sukses didanai dari platform ini, Kickstarter menerapkan biaya 5 persen dari total dana yang terkumpul. Biaya 5 persen itu tidak berlaku untuk proyek yang gagal mencapai target urun dana.

Ada pula GoFundMe yang mulai berdiri sejak 2010 di California, AS. Situs urun dana ini tidak terbatas pada pembiayaan proyek, tetapi untuk aksi sosial seperti urun dana untuk membayar biaya rumah sakit.

"Tidak ada deadline atau pembatasan, setiap donasi yang Anda terima adalah milik Anda," tulis GoFundMe dalam laman resminya.

Penggalangan dana di situs ini tidak memiliki batas waktu, kampanye urun dana tetap berlangsung hingga pengguna menghentikan atau menghapusnya sendiri.

GoFundMe mendapat pemasukan dari biaya 5 persen yang diterapkan dari setiap donasi yang diterima.

Dengan maraknya situs penggalangan dana untuk donasi, tentu saja baik. Tetapi, berkaca dari kasus Cak Budi, tentu saja ini menjadi pembelajaran bagi masyarakat untuk memilih penggalang dana yang benar-benar transparan. (*)

Editor: Didik Kusbiantoro

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga

Generated in 0.015 seconds memory usage: 0.44 MB