Senin, 25 September 2017

Kaltim Kirim Tiga Inovator ke Jambore Inovasi

id jambore inovasi, pkp2a, mariman darto, nunukan, jik,
Kaltim Kirim Tiga Inovator ke Jambore Inovasi
Kepala Pusat Kajian, Pendidikan, dan Pelatihan Aparatur (PKP2A) III Lembaga Lembaga Administrasi Negara Mariman Darto(baju biru) ketika memberikan penjelsan terkait jambore inovator (ANTARA Kaltim/M.Ghofar)
Samarinda (ANTARA Kaltim) -  Provinsi Kalimantan Timur akan mengirim tiga inovator ke Jambore Inovasi Kalimantan (JIK) 2017 di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, pada 2-6 Agustus

"Saat ini 12 inovator dari Kaltim diseleksi untuk 3 terbaik. Tiga inovator yang lolos akan mewakili Kaltim dalam JIK 2017," ujar Kepala Pusat Kajian, Pendidikan, dan Pelatihan Aparatur (PKP2A) III Lembaga Lembaga Administrasi Negara Mariman Darto di Samarinda, Jumat.

Inovasi para inovator alumni Diklat ini, antara lain di bidang pelayanan publik, sanitasi, teknologi, jaringan, administrasi, dan berbagai bidang yang muaranya adalah untuk kepentingan masyarakat luas.

JIK, lanjutnya, merupakan ajang para inovator se-Kalimantan untuk mempromosikan dan mendeseminasikan hasil inovasi semua alumni Diklat di Pulau Kalimantan.

Ia mengaku telah ada beberapa inovasi yang dampaknya dirasakan masyarakat luas. Salah satu yang paling menonjol adalah kemampuan alumni Diklat atas nama Ramsidah, Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinas Kesehatan Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara.

Ramsidah berhasil mengubah cara berpikir masyarakat di Kecamatan Sebatik, Nunukan, yang sebelumnya membuang air besar di sungai dan di kebun-kebun, kini sudah memiliki MCK berkat kegigihannya meyakinkan pentingnya hidup sehat dan temuannya membuat septic tank dari ban bekas.

Dalam hal ini, lanjut Mariman, Ramsidah membuat terobosan berupa program Arisan Jamban Keluarga, sehingga nama yang ke luar saat dilakukan lot arisan, maka disepakti di tempat nama yang ke luar itulah yang akan dilakukan gotong royong membuat jamban.

Uang hasil arisan akan digunakan membeli batu, semen, pasir, dan bahan untuk membangun jamban, termasuk untuk makan minum, sementara tenaga kerjanya berasal dari warga secara gotong royong.

"Saat JIK yang digelar di Tanjung Selor, Kalimantan Utara, tahun lalu, Ramsidah memperoleh juara pertama se-Kalimantan, bahkan ia langsung dinaubatkan sebagai Pahlawan Sanitasi. Bayangkan, betapa besar inovasi yang dilakukan, dari warga yang BAB di sembarang tempat, kini di sana ada 1.000 jamban," tutur Mariman.

Untuk itu, ia berharap dalam JIK 2017 di Kalsel pada Agustus mendatang, akan ditemukan juara yang benar-benar mendedikasikan diri untuk kepentingan masyarakat luas, karena kemajuan suatu bangsa juga diukur seberapa besar tingat inovasi yang dilakukan oleh masyarakatnya. (*)

Editor: Rahmad

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga

Generated in 0.0162 seconds memory usage: 0.46 MB